SPSS atau SmartPLS? Kapan Memakai Masing-Masing untuk Skripsi

Perbedaan SPSS dan SmartPLS, kapan cukup regresi di SPSS dan kapan perlu PLS-SEM, plus gambaran tahapan analisis dan kriteria evaluasi model di SmartPLS.

Pertanyaan ini hampir selalu muncul saat menyusun metodologi. Jawabannya bergantung pada model penelitian Anda, bukan pada mana yang lebih "keren". Berikut cara memilihnya.

Perbedaan singkat

 SPSSSmartPLS
FokusStatistik umum: deskriptif, uji beda, korelasi, regresiPemodelan persamaan struktural berbasis varians (PLS-SEM)
ModelVariabel diukur langsung atau lewat skor totalKonstruk laten dengan banyak indikator, bisa ada mediasi berlapis
Cocok untukRegresi linear, uji t, ANOVA, chi-squareModel dengan beberapa konstruk saling terkait
Ukuran sampelMengikuti kebutuhan ujiRelatif fleksibel untuk sampel kecil sampai menengah

Kapan cukup memakai SPSS

Kapan SmartPLS lebih tepat

Gambaran tahapan analisis di SmartPLS

  1. Gambar model (inner model) dan hubungkan indikator ke konstruk (outer model).
  2. Evaluasi model pengukuran: outer loading, Average Variance Extracted (AVE), Composite Reliability, dan validitas diskriminan.
  3. Evaluasi model struktural: nilai R-square, ukuran efek, dan signifikansi jalur lewat bootstrapping.
  4. Interpretasi dan penulisan hasil sesuai hipotesis.

Kriteria yang umum dipakai

UkuranBatas umum
Outer loading≥ 0,70 (0,40 – 0,70 masih bisa dipertimbangkan)
AVE≥ 0,50
Composite Reliability / Cronbach's Alpha≥ 0,70
HTMT (validitas diskriminan)< 0,90
Signifikansi jalur (bootstrapping)t-statistik > 1,96 atau p-value < 0,05

Cara memutuskan

Mulailah dari kerangka konseptual Anda. Jika modelnya berupa konstruk laten berlapis, pilih SmartPLS. Jika hanya regresi sederhana, SPSS sudah memadai dan lebih mudah dipertanggungjawabkan. Sebelum memutuskan, konsultasikan dengan pembimbing karena beberapa kampus punya preferensi metode tertentu.

Angka batas di atas adalah acuan yang lazim di literatur. Rujukan pasti sebaiknya mengikuti buku atau jurnal yang Anda pakai di bab metodologi.